Darah Terakhir Turki Tetap Merah Membara
AFP/VALERY HACHE
Para pemain Turki memberi sambutan kepada penonton. Meski kalah 2-3 dari Jerman, mereka bisa pulang dengan kepala tetap tegak.
Kamis, 26 Juni 2008 | 04:49 WIB

IBARAT kata, Turki tampil dengan darah terakhir saat menghadapi Jerman di semifinal Euro 2008. Mereka benar-benar krisis. Sebanyak 9 pemain tak bisa tampil karena cedera atau terkena hukuman.

Namun, darah terakhir itu masih merah membara. Tak sedikit pun mereka mununkkan kelelahan atau kelemahan. Sebaliknya, seperti diperkirakan Michael Ballack, Turki tetaplah neraka yang harus diperhitungkan sebagai tim paling berbahaya.

Turki tetap tampil luar biasa, memesona dan mengagumkan. "We never says die," begitu kata pelatihnya, Fatih Terim, meski harus bertarung dengan sisa-sisa kekuatan.

Namun, Turki tetaplah Turki. Mereka begitu bangga dengan nama negaranya. Sebab, Turki berasal dari kata Turk dan iye. Turk berarti strong atau kkuat. Dan, mereka tetap ingin mengibarkan identitas bangsanya sebagai pasukan yang kuat di semifinal itu.

"Tak ada yang tak mungkin. Selama kami tak menghendaki kekalahan, kami akan bertarung sampai benar-benar titik darah penghabisan," kata Terim sebelum pertandingan.

Dan, itu ditunjukkan dengan baik oleh Turki. Jika akhirnya mereka kalah 2-3 dari Jerman, bukan berarti darah mereka telah terkuras habis atau sudah berganti warna abu-abu. Tapi, darah mereka justru semakin merah membara. Turki telah menoreh tinta emas dalam sejarah sepakbola. Bukan saja masuk semifinal untuk pertama kalinya, tapi juga memberi pesan bagaimana bermain bola yang energik, penuh semangat, tanpa kenal menyerah, hingga begitu menggairahkan. Mereka juga mengabarkan bagaimana bermain sepakbola menyerang yang baik dan memuaskan, bukan sepakbola banci yang melulu hanya mengejar kemenangan.

Sebab itu, Turki tetap bisa pulang dengan kepala tegak. Kekalahan menjadi sekadar hasil pertandingan, tanpa mendatangkan aib. Sebaliknya, sejuta pujian pantas dilayangkan kepada Turki yang telah menyuguhkan semangat juang dan permainan menyerang yang menawan.

Pantas, pelatih Jerman, Joachim Loew memberi pujian khusus buat Turki. "Mereka bermain dengan baik. Mereka mengejar bola ke mana pun berada, hingga membuat para pemain kami seolah keberatan kaki dan sulit melangkah," puji Loew.

Karena mentalitas itu pula, mungkin, Jerman mengajak Turki beraliansi pada Perang Dunia 1914. Jerman tahu bagaimana Turki bertarung. Dan kini, mereka justru saling bertarung sendiri, tapi di sepakbola. Toh, mereka tak harus membangun permusuhan.

Itu pula sebabnya, Menteri Dalam Negeri Jerman, Wolfgang Schaeuble mengatakan, "Biarlah tim terbaik yang memenangkan pertandingan. Yang lebih penting lagi, kemenangan itu berupa persahabatan antara Jerman dan Turki."

Turki pun sebenarnya tak hharus merasa kalah. Bahkan, jika ada catatan manis selama Euro 2008, Turki adalah salah satunya. Di saat krisis, mereka masih bisa memberikan suguhan menarik. Mereka memang tampil dengan darah terakhir, tapi justru permainannya seperti sihir. (Hery Prasetyo)

Nilai 4.84 A A A
komentar anda
rizki widyanugraha @ Kamis, 26 Juni 2008 | 15:12 WIB
Bener Man... Satu lagi biarlah pelatih diberi kebebasan berimprovisasi Yang lain gak usah ikut2an cukup bantu biar berjalan dgn baik Bravo Sepakbola Indonesia..... Apalagi yg bisa kami banggakan sekarang...
chiowchips @ Kamis, 26 Juni 2008 | 15:07 WIB
iya, walo dukung jerman, tapi turki tetep hebat..salut salut..
norman suryaatmaja @ Kamis, 26 Juni 2008 | 14:56 WIB
Begitulah seharusnya sebuah pertandingan... Bagaimana pemain timnas Indonesia? Jgn cuma bergadang nonton bola aja yg dijalanin tp contohlah semangat juangnya... Sepatu bolanya sama, kaos teamnya jg sama satu produk tp kalo timnas Indonesia alesannya selalu kurang persiapan, kalah fisik, lapangannya jelek, cuacanya gak mendukung, dll jd contohlah !!!
ian @ Kamis, 26 Juni 2008 | 12:27 WIB
Salut buat timnas Turki, walau terhempas di semifinal tetap saja mereka kalah dengan jantan! Buat timnas Perancis dan Itali, pamor bintang kalian percuma kalau tak bisa menjalin kerjasama dan rela berkorban seperti Turki! Buat timnas Belanda, Ceko dan Kroasia, sepertinya mereka juga harus belajar banyak tentang konsistensi permainan dari Turki. Buat timnas Inggris... lebih baik mereka gantiin Turki masuk zona Asia aja. Mungkin mereka lebih cocok bersaing dengan timnas kita hehehe
turkiyenia @ Kamis, 26 Juni 2008 | 11:55 WIB
salut berat u/ team turki yg maen bola dgn spenuh ht dan membara, beda bangeet dan geram ingat sepakbola gajah timnas qta dl!
20 Komentar
Posting komentar anda
Nama
Email
Komentar
Security Code
News
Casillas: Duel Lawan Italia yang Terberat
Kapten dan penjaga gawang Spanyol, Iker Casillas, mengakui bahwa pertandingan paling keras bagi mereka sebelum jadi juara adalah saat lawan Italia
Features
Indonesia, Tirulah Spanyol dan Turki
Postur pemain sepakbola yang tinggi besar, tidak menjamin kesuksesan