AFP"QUE VIVA ESPANA!" Kata-kata yang berarti jayalah Spanyol itu terus bergema di seluruh negeri. Warga turun ke jalan merayakan kemenangan timnya 3-0 atas Rusia dan lolos ke final Euro 2008 untuk menantang Jerman.
Ini euforia terbesar sepakbola Spanyol sejak 1964, ketika mereka menjuarai Piala Eropa pertama dan satu-satunya. Setelah itu, Spanyol selalu terseok-seok di pentas internasional, baik Piala Eropa maupun Piala Dunia. Seolah, Spanyol yang selalu ditaburi banyak bintang itu, memang tak mampu menjuarai pentas internasional lagi.
Maka, begitu Spanyol mengalahkan Rusia dengan meyakinkan dan lolos ke final, rakyat negeri itu sudah tak tahan untuk merayakannya. Mereka seolah sudah juara. Sebab, prestasi ini memang kesempatan langka buat sepakbola Spanyol yang sebenarnya megah dan wah itu. Mereka sebelumnya lolos ke final pada 1964 (juara) dan 1984 (kalah dari Prancis).
"Ini waktunya! Ya, benar ini waktunya Spanyol menjadi juara," teriak Juan, dengan tangan kanan membawa bendera Spanyol sementara tangan kirinya menggenggam botol bir, di alun-alun Madrid.
Sebanyak 10.000 orang berkerumun di alun-alun Kota Madrid. Mereka mengenakan seragam kebesaran Spanyol dan tak lupa membawa bendera kebangsaan, sambil menyaksikan partai Spanyol lawan Rusia lewat layar lebar. Semua etnis berbaur, baik Catalan, Spanyol, maupun Basque. Ini saatnya bersatu demi kejayaan Spanyol.
Jalan-jalan pun penuh sesak dengan lautan manusia. Di Paseo de Recoletos, Madrid, misalnya. Ribuan manusia menyemut untuk merayakan kemenangan timnya. Mobil-mobil meraung-raungkan gas dan meniupkan klason, hingga memekakkan kota dalam bahagia dan kepuasan tiada tara.
"Kami punya kesempatan emas pada Minggu nanti, ketika tampil di final lawan Jerman. Kami bisa memenangkan trofi Euro 2008," ujar warga lain berapi-api.
Sementara itu Pangeran Felipe yang menonton langsung pertandingan itu bersama istrinya di Vienna, juga tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Bahkan, dia beberapa kali bersorak dan memeluk istrinya.
Wakil Perdana Menteri, Maria Teresa Fernandez de la Vega yang mendampingi ningrat itu, juga berapi-api ketika ditunjuk untuk memberi komentar kepada pers. "Kami semua bahagia dan mencintai tim ini. Setelah gol kedua, kami langsung yakin bisa memenangkan pertandingan dan benar adanya," jelasnya.
Que Viva Espana, kata-kata itu masih bergema di seantero Spanyol. Tiba-tiba, negeri ini bersatu atas nama sepakbola. Pertentangan politik, sentimen ras, dan dendam masa lalu seolah sirna demi satu kebahagiaan atas nama sepakbola.
Memang, Spanyol bukan negeri yang solid. Represi kerajaan dan kekejaman rezim Jenderal Franco di masa lalu meninggalkan banyak luka. Sehingga, primordialisme begitu kuat. Orang Catalan merasa bukan Spanyol. Bahkan, setiap Barcelona bermain, ada saja suporter yang membentangkan spanduk, "Catalonia is not Spain!".
Catalonia memang mengalami kepedihan luar biasa semasa rezim Franco yang bergandengan dengan kerajaan itu. Bahkan, intelektual mereka sempat dibantai, termasuk para pemain sepakbolanya. Wajar, jika Catalonia memiliki tim nasional sepakbola sendiri, bendera sendiri, dan lagu kebangsaan sendiri.
Tak jauh berbeda dengan etnik Basque yang juga merasa bukan Spanyol. Mereka juga punya timnas sepakbola sendiri, bendera dan lagu kebangsaan sendiri. Bahkan, sebagian masyarakat mereka aktif dalam gerakan separatis ETA yang hingga kini sering beraksi.
Karena itu pula, banyak pihak menilai belum solidnya nasionalisme mereka sebagai salah satu faktor kegagalan timnas Spanyol di pentas internasional. Sebab, tidak semua pemain merasa ikhlas dan berjuang penuh demi nama Spanyol. Hati mereka tak bulat-bulat untuk Spanyol. Sehingga, meski selalu bertabur bintang, prestasi Spanyol di pentas internasional selalu belepotan.
Namun, saking lamanya terpuruk di pentas internasional, mungkin warga Spanyol agak berubah dalam menyikapi timnas sepakbola Spanyol. Soal politik dan kebudayaan, mereka boleh berbeda-beda. Tapi, untuk sepakbola sudah saatnya bersatu dalam satu identitas. Mereka merasa, timnas Spanyol juga timnasnya Catalonia atau Basque. Dan, mereka ingin merasakan mandi kepuasan dan kebahagiaan dalam euforia kejayaan sepakbola.
Toh, di dalam tim juga ada empat bintang Catalonia yang sangat berpengaruh dalam kejayaan Spanyol kali ini. Mereka adalah Cesc Fabregas, Carles Puyol, Xavi, dan Andres Iniesta. Hebatnya permainan mereka menunjukkan betapa hati mereka sudah utuh untuk berjuang membawa kejayaan Spanyol. Sebab, kesuksesan sepakbola Spanyol juga akan membawa kebahagiaan seluruh negeri, tak peduli dari ras apa. Sepakbola telah membuktikan diri sebagai identitas dan bahasa universal yang mungkin menyatukan warga Spanyol. Setidaknya dalam sepakbola.
Wajar pula, jika kesuksesan mereka lolos ke final Euro 2008 disambut meriah warga seluruh negeri. Mereka turun ke jalan dan meneriakkan, "Que Viva Espana!" tanpa malu-malu. Bagi warga Catalonia, kejayaan itu juga berarti kejayaan mereka karena ada wakil Catalonia di sana. Begitu juga warga Basque.
Soliditas ini bakal menjadi kekuatan lain Spanyol dalam melangkah ke final untuk melawan Jerman.
"Que Viva Espana!" (Hery Prasetyo)
Casillas: Duel Lawan Italia yang Terberat
Indonesia, Tirulah Spanyol dan Turki